Scroll untuk baca artikel
SERBA-SERBI

Dua Tahun Setelah Syahadat, Jefrry Gunawan Masih Tak Bisa Salat

×

Dua Tahun Setelah Syahadat, Jefrry Gunawan Masih Tak Bisa Salat

Sebarkan artikel ini

ELITANEWS.COM. PALU – Ketua Mualaf Center Indonesia (MCI) Sulawesi Tengah, Jefrry Gunawan, membagikan kisah perjalanan spiritualnya saat mengisi safari dakwah di Masjid Al-Mizan, Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Tengah, Jalan Sam Ratulangi, Kota Palu, Kamis. (10/9/2026)

Jefrry yang sebelumnya dibesarkan dalam keluarga Katolik di Surabaya mengaku pernah memiliki pandangan negatif terhadap Islam. Pandangan tersebut , kata dia, salah satunya dipengaruhi pemberitaan mengenai kasus Bom Bali ketika dirinya masih bersekolah.

“Saya termasuk dulunya orang yang tidak suka dengan Islam. Ketika zaman saya sekolah dulu, kebetulan juga ada kasus Bom Bali,” kata Jefrry.

Ia kemudian bersekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan mulai bergaul dengan orang-orang dari berbagai latar belakang agama. Namun, ketidaksukaannya terhadap Islam kala itu bahkan diwujudkan melalui perkelahian dan tawuran dengan pelajar madrasah.

Setelah lulus SMA, Jefrry pindah ke Bali pada 2011 untuk bekerja di sebuah biro perjalanan. Di luar jam kerja, ia mengaku menjalani kehidupan yang penuh dengan aktivitas malam, minuman keras, hingga akhirnya meninggalkan atribut agama yang sebelumnya dianut.

Menurut dia, kehidupan tersebut justru membuat dirinya kelelahan.

“Orang bermaksiat itu, Pak, demi Allah capek. Orang bermaksiat itu melelahkan,” ujarnya.

Jefrry kemudian berpindah ke Lombok dan bekerja sebagai kuli bangunan. Setelah itu, ia pindah ke Labuan Bajo. Di tempat tersebut, pada Maret 2013, ia memutuskan mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi memeluk Islam.

Namun, menurut Jefrry, proses tersebut tidak serta-merta membuatnya memahami tata cara menjalankan ibadah sebagai seorang muslim.

Ia mengaku setelah bersyahadat tidak mendapatkan pembinaan keagamaan yang memadai. Saat itu, ia hanya menerima buku Iqra, sarung, dan uang sebesar Rp200 ribu dari pengurus masjid.

“Masuk Islam, apa? Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Saya bersaksi, selesai. Tidak sampai lima menit,” tuturnya.

Bahkan, Jefrry mengaku belum mampu membaca Iqra. Dari sekitar 25 pekerja yang berada di lokasi proyek tempatnya bekerja, hanya dua orang yang dapat membaca Iqra.

Kondisi tersebut membuatnya tetap menjalani kehidupan lama meski telah memeluk Islam. Ia mengaku masih mengonsumsi minuman keras hingga akhir 2013.

Titik balik kehidupannya terjadi pada 1 Januari 2014. Setelah mengonsumsi minuman keras dari malam hingga pagi, Jefrry jatuh sakit dan tidak sadarkan diri. Ia kemudian dirujuk ke Surabaya dan dirawat di Rumah Sakit RKZ, rumah sakit Katolik tempat keluarganya membawanya berobat.

Saat tersadar setelah tiga hari, ibunya berada di sampingnya. Menurut Jefrry, sang ibu sempat mengatakan bahwa dirinya justru semakin rusak setelah memeluk Islam.
Ucapan itu membuat Jefrry menangis dan kemudian berdoa.

“Ya Allah, saya mau bertobat,” ucapnya dalam doa kala itu.

Selama enam bulan menjalani pemulihan, Jefrry mengaku belum bisa melaksanakan salat karena tidak mengetahui tata cara salat, wudu, maupun tayamum. Ia mengatakan doa yang terus dipanjatkannya saat itu bukan meminta kesembuhan, melainkan meminta pertolongan agar dapat meninggalkan kebiasaan buruk.

“Saya cuma minta Allah bantu saya supaya saya bisa berhenti minum, saya bisa berhenti obat-obatan, saya bisa berhenti merokok,” katanya.
Pada Oktober 2014, setelah menjalani pemeriksaan kesehatan lanjutan, Jefrry mengatakan kondisi kesehatannya mulai membaik.

Setelah itu, ia kembali melakukan perjalanan dan akhirnya berada di Kabupaten Tolitoli. Di daerah tersebut, ia bertemu Ustaz Ahmad Sodir, pimpinan Hidayatullah Tolitoli.

Dari pertemuan itu, Jefrry mulai mendapatkan pembinaan agama secara lebih intensif. Pada 2017, ia kembali mengucapkan syahadat di hadapan Ustaz Ahmad Sodir dan mulai belajar Islam, termasuk tata cara wudu, salat, membaca Iqra, hingga Al-Qur’an.

“Intinya saya belajar Islam di Tolitoli. Dari baca Iqra, alhamdulillah hari ini bisa baca Al-Qur’an,” ujarnya.

Jefrry kemudian menikah di Kota Palu pada 18 Agustus 2018 dan menetap di Palu. Setelah bencana alam yang melanda Sulawesi Tengah pada 2018, ia mendirikan Yayasan Mualaf Center Sulawesi Tengah pada April 2019.

Melalui lembaga tersebut, Jefrry kini fokus pada pendampingan dan pembinaan mualaf. MCI Sulteng membuka kelas mengaji bagi orang dewasa, termasuk ibu-ibu dan mualaf yang baru masuk Islam.

Selain itu, terdapat Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Al-Hidayah di Petobo yang diperuntukkan bagi anak-anak sekitar. Seluruh kegiatan pembelajaran tersebut diberikan secara gratis.

Jefrry mengatakan, pembinaan mualaf menjadi penting karena pengalaman seseorang setelah mengucapkan syahadat tidak berhenti pada pengakuan masuk Islam.

“Kalau masuk Islam hanya selesai syahadat, pertanyaannya, setelah itu bagaimana?” ujarnya.

Menurut Jefrry, seorang mualaf membutuhkan pendampingan untuk memahami dasar-dasar agama, mulai dari membaca Al-Qur’an, bersuci, salat, hingga menjalankan kehidupan sebagai seorang muslim.

Ia berharap pengalaman pribadinya menjadi pelajaran bahwa seseorang yang baru memeluk Islam tidak cukup hanya diberikan simbol atau bantuan sesaat, tetapi membutuhkan pendampingan secara berkelanjutan.

MCI Sulteng, kata dia, juga menjalankan sejumlah kegiatan sosial dan keagamaan, di antaranya advokasi mualaf, pembagian Al-Qur’an, serta layanan penghapusan tato secara gratis.

“Yang kita lakukan bukan hanya mengajak orang bersyahadat, tetapi bagaimana setelah itu mereka bisa belajar dan memahami Islam,” katanya. (Jamal)